Tindakan Intoleran, Kardinal Julius: Kita Ampuni dan Jangan Membalas

BeritaSatu.com
Rabu, 17 Mei 2017 | 12:00

Yogyakarta - Umat Nasrani memiliki hukum cinta-kasih, yakni jika mencintai Tuhan, maka tunjukkanlah dengan mencintai sesama. Sayangnya, hukum cinta kasih ini masih berlaku hanya di antara sesama jemaat, belum meluas kepada seluruh umat manusia. Apalagi, dalam kondisi bangsa seperti saat ini, hukum balas-membalas hendaknya tidak diterapkan, karena tidak akan ada ujungnya.
“Kita ampuni orangnya, meski kita tolak perbuatannya. Kita harus memutuskan mata rantai balas-membalas. Terhadap kelompok-kelompok intoleran, umat Nasrani dan umat beriman secara luas, pantang berpikir untuk memberikan pembalasan, termasuk kepada kelompok radikal," kata rohaniawan Katolik, Kardinal Julius Darmaatmadja SJ dalam seminar nasional "Merajut Persaudaraan, Mengikis Sikap Intoleransi" yang digelar di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Selasa (16/5) malam.
Kardinal Julius mengatakan menjalin persaudaraan antaragama harus menjadi inklusif. "Dalam Injil Yohanes disebutkan: kasihilah umat manusia seperti kau mengasihi diri sendiri. Kasih kepada Tuhan harus dibuktikan lewat mengasihi sesama," katanya.
Menanggapi hal itu, tokoh Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif yang juga menjadi pembicara dalam seminar itu menyebutkan pernyataan Kardinal Julius sangat Islami, bahkan dirinya mengakui sulit melaksanakan ajaran cinta-kasih di era yang serba-sumbu pendek (situasi yang abnormal, Red) ini.
“Saya terenyuh, batin saya bergetar, yang disampaikan Kardinal seperti suara seorang Muslim yang belum terkontaminasi. Sementara orang Islam sumbu pendek telah membuang saya dari kelompok Islam. Kalau saya tidak kenal Alquran, maka saya pasti enggan menjadi Muslim. Tetapi Alquran yang rahmatin lil alamin tetap meneguhkan saya,” ujar Buya Syafii.
Dalam pemaparannya tentang munculnya kelompok radikal berbasis agama, Buya Syafii menegaskan radikalisme muncul sebagai ungkapan ketidakmampuan dari kelompok-kelompok masyarakat, khususnya di tanah Arab dalam mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
“Masyarakat Arab yang masih normal atau bersumbu panjang, banyak yang memilih pergi meninggalkan tanah kelahirannya, karena tidak tahan dengan situasi politik di negaranya. Mereka justru pergi ke negara-negara yang bukan mayoritas Muslim, untuk mendapatkan kedamaian,” ucap Buya.
Namun celakanya, bagi orang Indonesia, semua yang berbau Arab, dianggab suci dan pasti bagus. "Bagaimana dengan tragedi Boko Haram dan ISIS? Manisfestasi dari Islam menjadi jauh berbeda. Bahkan yang menjadi pertanyaan, mengapa ISIS tidak menyerang Israel jika mereka memang menjalankan misi Islami. Saya bertanya-tanya, apa sebenarnya ISIS itu? Justu sesama Muslim yang diserang, sementara Israel tidak menjadi target. Lalu apa mereka itu, sementara orang Indonesia, banyak yang mengagumi ISIS,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Syafii Ma’arif menyatakan kelompok-kelompok yang tersingkir dari tanah Arab atau sudah kehabisan napas, justru dibawa ke Indonesia dan diterima dengan terbuka. “Mudah-mudahan ini bersifat sementara. Saya pikir, itu hanya orang-orang pinggir jalan yang gagal memahami agamanya secara tulus,” tegas Buya.
Buya Syafii juga menyayangkan di tengah maraknya intoleransi, kelompok masyarakat Indonesia yang terdidik dari perguruan tinggi, justru tidak bersuara. “Mana suara para rektor universitas negeri terkemuka di negeri ini. Mengapa berdiam diri,” tanya Buya.

Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.