GEREJA ITU BERAWAL DARI KALANGAN ABRI

Dimulai sekitar tahun 1972, ada beberapa keluarga Katolik yang pindah di sekitar kompleks Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Kodam V Jaya. Baik keluarga sipil yang pindah ke Bintaro maupun keluarga ABRI yang ditugaskan di Bintaro. Tentu mereka belum saling mengenal. Tetapi karena melihat setiap hari Minggu ada yang membawa buku Madah Bakti, jadi kebetulan ketemu dan ngobrol.

Setelah saling mengenal tentu mereka mencari Gereja Katolik yang terdekat, ternyata Gereja St. Yohanes Penginjil di Blok B. Waktu itu kendaraan umum belum banyak dan masih sulit, jadi ke Blok B terasa cukup jauh. Lalu mereka berusaha mengadakan pertemuan untuk berdoa bersama di rumah secara bergilir. Setelah keluarga sipil dan keluarga ABRI bertambah banyak, dengan menggunakan sarana dapur Kodam untuk tempat bertemu serta berdoa bersama. Keluarga-keluarga yang menjadi cikal bakal umat perdana antara lain: Keluarga Bapak FX Suyitno, Dasirun, Tugiyono, Sumaryono, Brigjen Suharno, Mayor Sardjono, Mayor Yuswadi, Kolonel Herdjito, Kolonel Sukirman, Sagiman, Suyono, Iskandar Tjan, Mingkor, Rukidi, Sumarno, Lopez, Sudarko, Ibu Djoko Sulistyo dan lain-lain.

Buan Desember 1974, mereka merayakan Natal bersama di dapur Kodam Bintaro, dan pada bulan Oktober 1976, mendapat restu dari Pangdam V Jaya, Bapak Norman Sasono untuk menggunakan sebidang tanah di kompleks Kodam Bintaro untuk dibangun sebuah Gereja. Mereka segera membentuk Panitia Pembangunan Gereja yang diketuai oleh Bapak Kolonel Herdjito.

Maka pada 31 Agustus 1977, setelah mendapat persetujuan dari Pastor K.One SJ, pastor kepala paroki St.Yohanes Penginjil Blok B, maka pembangunan gereja dimulai. Bapak Iskandar Tjan termasuk seksi pencari dananya.

Pada tanggal 17 Desember 1977, hanya sekitar tiga setengah bulan, pembangunan gereja selesai dibangun.

Dan tanggal 20 Desember 1977, gereja diresmikan oleh Pangdam V Jaya pada waktu itu, Bapak Norman Sasono. Mulai saat itu umat sudah dapat menggunakannya untuk Misa Kudus setiap hari Minggu, pastornya didatangkan dari Paroki Blok B atau tempat lain. Pastor-pastor yang pernah datang antara lain Pastor Sutopanitro ,Pastor Ben Tentua OFM, Pastor Ombas, Pastor Van Der Scheuren SJ, Pastor Prayitno, Pastor Dotohendro, Pastor Van Heusz, Pastor K. One, Pastor Projosuto, Pastor Kurris SJ, Pastor Bob dan lain lain.

Bermula dari Stasi Bintaro, wilayah Tanah Kusir di Paroki Blok B, jumlah umat yang semakin bertambah, karena banyak keluarga pindahan dari paroki lain, juga karena Bintaro merupakan daerah permukiman baru yang berkembang pesat.

25 Januari 1983, Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto SJ, menugaskan Pastor Otello Pancani SX, untuk menyiapkan Stasi Bintaro menjadi sebuah paroki.

Waktu itu di Kapel Bintaro belum mempunyai rumah pastoran, maka untuk sementara Pastor Otello tinggal dirumah kediaman keluarga Bapak Iskandar Tjan. Sekitar bulan Maret 1983 baru dibangun Pastoran Bintaro. Bapak Tjan ingat betul waktu itu lantai pastoran sangat tebal, sehingga menghabiskan banyak semen, bahkan ada yang berguman wah lantainya seperti landasan kapal terbang.

Akhirnya pada tanggal 21 September 1983, Paroki baru lahir, dengan nama Paroki St.Matius Penginjil Bintaro, dengan pastor kepala parokinya adalah Otello Pancani SX, dan secara resmi pula berpisah dari paroki Blok B. Batas wilayah antara paroki Blok B dengan Paroki St Matius Penginjil Bintaro adalah Sungai Pesanggrahan.

Sumber dari Buku kenangan 25 tahun HUT Paroki Santo Matius Penginjil

(Albertus Binardi Bachtiar).

Zircon - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.